Selasa, 29 November 2011

Stasiun Ambarawa (Daerah Operasi 4 Semarang)


st_ambarawa_abr
Stasiun Kereta Api Ambarawa pada awalnya adalah sebuah stasiun yang bernama Stasiun Willem I, dibangun oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tanggal 21 Mei 1873- Stasiun ini diberi nama menurut nama raja Belanda yang berkuasa pada saat itu, karena pembangunannya dilatarbelakangi pertimbangan politis.
Pada masa pengoperasiannya di masa kolonialisme Belanda, Stasiun Willem I digunakan sebagai sarana transportasi militer di sekitar Jawa Tengah. Keistimewaan jalur kereta api di sini adalah terdapatnya rel khusus untuk kereta dengan roda bergerigi yang digunakan untuk melintasi jalur perbukitan yang menanjak. Namun pada tahun 1976, Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) terpaksa menghentikan pengoperasian stasiun ini dan jalur di sekitarnya. Sejak saat itu Stasiun Ambarawa digunakan sebagai Museum Kereta Api, dan pada tahun 2002 Pemerintah Propinsi Jawa Tengah merevitalisasi bangunan stasiun tua tersebut.
Sebagai museum, Stasiun Ambarawa menyimpan sedikitnya 21 buah lokomotif kuno buatan tahun 1891 - 1928. Salah satunya adalah lokomotif CC50 buatan Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik Winterthur, Swiss dan Werkspoor, Belanda yang pada masa jayanya diberi julukan Berkoningin atau Ratu Pegunungan karena lokomotif yang diproduksi tahun 1927 ini merupakan loko yang paling gesit menempuh jalur pegunungan yang menanjak dan berliku. Diantara koleksi lokomotof tua tersebut, dua di antaranya masih bisa beroperasi sebagai kereta wisata, yakni kereta uap bergerigi B25 02 dan B25 03 buatan Jerman.
Mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa ini kita akan disuguhi kemegahan arsitektur bangunan peninggalan Belanda. Bangunan utama stasiun berupa struktur baja bentang lebar dengan atap tinggi seperti hanggar yang menaungi peron serta sebuah bangunan berdinding bata yang dahulu merupakan ruang kepala stasiun dan ruang tunggu.
Di bagian luar, terdapat peron yang luas dan terbuka memberi kesan lapang dan menunjukkan adanya pertimbangan matang dalam perancangannya sebagai fasilitas publik pada iklim tropis.
Keindahan bangunan ditampilkan melalui ornamentasi geometris berupa list dan moulding dari susunan bata yang ditempelkan pada dinding serta membingkai setiap pintu dan jendela. Suatu gaya ornamentasi yang diilhami oleh arsitektur Eropa yang populer pada pertengahan abad 19. Di kanan-kiri peron yang luas dan terbuka dengan lantai ubin yang masih asli dan terawat memberi kesan lapang sebagai fasilitas publik pada iklim tropis.
Komposisi pintu dan jendela-jendela yang geometris menimbulkan irama yang teratur dan indah dengan adanya unsur garis berupa list dan moulding dari susunan bata yang sekaligus memberikan kesan kesatuan.
Susunan kolom-kolom baja yang mendukung konstruksi atap pelana berbentuk hanggar dengan kanopi yang dahulu menaungi emplasemen. Di atas kanopi terdapat bidang - bidang kaca yang berfungsi sebagai pencahayaan.
Ruangan yang dahulunya merupakan ruang tunggu VIP sekarang difungsikan sebagai ruang penyimpanan dan display alat-alat perkeretaapian seperti alat pengatur sinyal, alat telekomunikasi kuno, dan sebagainya.http://indonesianheritagerailway.com/index.php?option=com_content&view=article&id=362%3Astasiun-ambarawa&catid=57&lang=id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar